Gue masih inget waktu awal-awal ngekos dulu. Setiap pagi, sambil nunggu angkot atau nebeng motor temen ke kampus, obrolan di warung kopi pinggir jalan hampir selalu muter ke topik yang sama: kerja nanti gimana, interview gimana, gaji pertama buat apa. Dan dari obrolan-obrolan itu, pelan-pelan mitos-mitos soal dunia kerja mulai nempel di kepala gue. Ada yang bener, tapi banyak juga yang ternyata zonk.
Masalahnya, buat anak rantau kayak kita, mitos ini sering jadi pegangan karena nggak ada yang ngoreksi. Orang tua di kampung mungkin nggak paham seluk-beluk interview zaman sekarang. Dosen kadang cuma kasih teori. Temen sebaya ya sama-sama nebak-nebak. Jadi ya, mitosnya jalan terus. Nah, berikut beberapa mitos populer yang menurut gue paling sering bikin anak rantau salah langkah.
Baca juga: Tiap Pagi Saya ke Kantor, tapi Tak Lagi Digaji: Ini Pelajaran Karier buat Pensiunan
"IPK Tinggi Otomatis Dapat Kerja Bagus"
Ini mitos nomor satu yang paling lengket. Gue nggak bilang IPK nggak penting, ya. Tapi anggapan bahwa nilai bagus otomatis bikin kamu dilirik perusahaan itu keliru besar. Recruiter zaman sekarang jauh lebih sering lihat pengalaman, cara kamu komunikasi, dan gimana kamu nyelesaiin masalah.
Gue punya temen, sebut aja Rian, IPK-nya nyaris sempurna. Tapi waktu interview magang, dia kaget karena pertanyaannya bukan soal rumus atau teori, melainkan "ceritain waktu kamu gagal ngatur tim." Dia blank. Sementara temen lain yang IPK-nya biasa aja tapi aktif di organisasi dan pernah jadi panitia acara kampus, justru lebih lancar jawabnya.
Jadi buat kamu yang mungkin lagi minder karena nilai nggak segemilang anak sebelah, tenang. Yang perlu kamu kejar itu kombinasi: nilai yang cukup aman plus pengalaman nyata. Ikut kepanitiaan, jadi relawan, ambil proyek kecil, atau magang di tempat yang nggak begitu bergengsi tapi kamu banyak belajar. Itu jauh lebih berguna daripada ngunci diri di kamar kos demi IPK 4,0 tapi nggak pernah ngomong di depan orang.
"Jangan Pernah Ngaku Nggak Tahu Saat Interview"
Mitos kedua ini bikin banyak kandidat, terutama anak rantau yang nggak punya mentor, jadi grogi setengah mati. Katanya, kalau ditanya sesuatu dan kamu jawab "saya belum tahu," berarti kamu langsung gugur. Akibatnya banyak yang maksa ngejawab, muter-muter, atau malah ngarang.
Padahal, berdasarkan pengalaman gue ngobrol sama beberapa HRD, justru kandidat yang jujur mengakui keterbatasannya sambil menunjukkan cara dia bakal belajar itu lebih dihargai. Interviewer itu bukan mesin pencari jawaban benar. Mereka lagi menilai cara kamu berpikir dan sikap kamu.
"Saya belum pernah pakai tools ini, tapi saya pernah belajar tools serupa dan dalam seminggu biasanya sudah cukup nyaman. Kalau boleh, saya jelaskan pendekatan saya."
Kalimat kayak gitu jauh lebih aman daripada ngarang. Ngarang itu berisiko: satu pertanyaan lanjutan aja, kamu udah ketahuan. Dan reputasi di dunia kerja itu kecil, lho. Apalagi di kota perantauan, lingkaran profesional bisa saling kenal.
Yang lebih penting: tunjukkan rasa penasaran, bukan kesempurnaan
Interviewer biasanya sadar kandidat fresh graduate belum tahu banyak. Yang mereka cari itu attitude: apakah kamu mau belajar, bisa diandalkan, dan nggak gampang defensif kalau dikoreksi. Jadi berhenti pura-pura tahu segalanya. Itu cuma bikin kamu kelihatan nggak jujur.
"Kerja Harus Sesuai Jurusan, Kalau Nggak, Percuma Kuliahnya"
Mitos ini yang paling sering bikin anak rantau overthinking. Kamu kuliah jauh-jauh dari kampung, biaya nggak sedikit, jadi rasanya dosa kalau kerja nggak linear sama jurusan. Padahal kenyataannya, banyak banget orang yang kariernya belok dan justru sukses di sana.
Gue sendiri kenal orang lulusan pendidikan yang sekarang kerja di tim marketing. Ada juga lulusan teknik yang jadi penulis konten. Bukan berarti kuliahnya sia-sia. Yang dibawa dari kuliah itu bukan cuma materi, tapi cara berpikir, kedisiplinan, dan kemampuan nyelesaiin tugas dengan tenggat.
Yang perlu kamu waspadai justru kalau kamu terlalu kaku. Misalnya nolak kesempatan magang di bidang yang nggak persis sama dengan jurusan, padahal di situ kamu bisa belajar banyak dan bangun jaringan. Buat anak rantau yang mungkin nggak punya koneksi keluarga di kota besar, kesempatan kayak gitu sayang banget kalau dilewatkan cuma gara-gara takut "keluar jalur."
"Gaji Pertama Itu Patokan Harga Diri"
Ini yang paling berbahaya, terutama buat kita yang ngerasa punya tanggung jawab balikin modal orang tua. Gaji pertama sering dianggap bukti bahwa kuliah dan merantau kamu berhasil. Kalau angkanya kecil, rasanya gagal.
Gue nggak akan munafik: gaji itu penting. Kamu butuh uang buat kos, makan, dan kirim ke rumah. Tapi jangan jadikan gaji pertama sebagai satu-satunya ukuran. Yang lebih menentukan masa depan justru apa yang kamu pelajari di dua-tiga tahun pertama. Kadang tempat dengan gaji lebih kecil tapi mentoring-nya bagus, jauh lebih menguntungkan jangka panjang daripada gaji besar tapi kamu stuck jadi mesin tanpa berkembang.
Ada juga yang lupa: biaya hidup di kota perantauan itu beda-beda. Gaji 5 juta di kota kecil bisa lebih "berasa" daripada 7 juta di Jakarta yang habis buat kos dan transport. Jadi sebelum membandingkan angka, hitung dulu realistisnya.
Intinya, mitos-mitos ini muncul karena kita jarang punya akses ke informasi yang bener. Sebagai anak rantau, kamu mungkin nggak punya om yang bisa ditanya soal seluk-beluk interview atau tetangga yang kerja di HRD. Tapi kamu bisa mulai dari hal kecil: banyak baca, banyak tanya ke senior, dan yang paling penting, jangan telan mentah-mentah semua yang kamu dengar di warung kopi. Dunia kerja itu nggak seseram dan sekaku yang dibayangkan mitos-mitos itu — asal kamu tahu mana yang beneran dan mana yang cuma cerita lama.