Dulu, tiap pagi saya bangun jam lima, mandi, sarapan buru-buru, lalu berangkat ke kantor. Rutinitas itu saya jalani hampir tiga puluh tahun. Kini, tiap pagi saya tetap bangun jam lima, tapi tujuan saya bukan lagi kantor. Kadang ke pasar, kadang ke halaman belakang, kadang cuma duduk di teras sambil ngopi. Dan anehnya, justru di masa-masa "nganggur" inilah saya belajar banyak hal soal dunia kerja yang dulu sering saya abaikan.
Mungkin kamu yang sudah pensiun juga merasakan hal serupa. Ada rasa lega, tapi juga ada rasa kosong. Kita seperti kehilangan identitas yang selama ini menempel di kartu nama. Nah, dari perenungan panjang itu, saya mau cerita beberapa pelajaran yang saya dapat—khususnya soal karier dan wawancara kerja, yang dulu saya jalani tanpa banyak berpikir.
Karier Itu Bukan Cuma Soal Naik Jabatan
Selama puluhan tahun, saya mengira karier itu ya soal naik jabatan. Dari staf, jadi supervisor, jadi manajer. Kalau nggak naik, berarti gagal. Pandangan itu ternyata sempit banget.
Baca juga: Ceklis 7 Hari Biar Wawancara Kerja Nggak Ambruk Saat Lagi Dinas
Sekarang, setelah tak lagi punya jabatan, saya baru sadar bahwa karier itu lebih soal bagaimana kita tumbuh sebagai manusia. Ada teman saya yang dulu jabatannya nggak tinggi, tapi dia paling dihormati di kantor karena selalu bisa diandalkan. Ada juga yang jabatannya mentereng, tapi begitu pensiun, tak ada yang menghubungi. Ini bukan soal siapa yang lebih baik, tapi soal apa yang sebenarnya kita bangun selama bekerja.
Kalau kamu masih aktif bekerja atau baru saja pensiun, coba tanyakan ke diri sendiri: selama ini saya membangun karier, atau cuma mengejar jabatan? Jawabannya mungkin bikin kita tersenyum getir, tapi setidaknya jujur.
Wawancara Kerja: Pelajaran yang Baru Saya Mengerti Sekarang
Dulu, tiap kali wawancara kerja, saya grogi setengah mati. Saya hafal jawaban-jawaban "benar" dari buku panduan. Tapi anehnya, yang akhirnya diterima justru sering kali bukan yang paling pintar menjawab, melainkan yang paling nyaman diajak ngobrol.
Baru sekarang saya paham kenapa. Pewawancara itu manusia, bukan mesin penilai. Mereka ingin tahu apakah kamu bisa diajak kerja sama, apakah kamu jujur, apakah kamu bisa tenang saat tertekan. Jawaban hafalan justru sering terdengar kaku dan palsu.
"Wawancara yang baik itu bukan tentang menjawab semua pertanyaan dengan sempurna, tapi tentang membuat orang di seberang meja merasa yakin bahwa kamu bisa dipercaya."
Saya ingat satu wawancara dulu, ketika saya ditanya soal kegagalan. Saya jawab jujur bahwa saya pernah salah mengambil keputusan dan hampir merugikan tim. Saya ceritakan apa yang saya pelajari. Pewawancara malah tersenyum dan bilang, "Akhirnya ada yang jujur." Saya diterima di posisi itu. Pelajaran yang saya bawa sampai pensiun: kejujuran itu bukan kelemahan, justru kekuatan.
Jangan Remehkan Pertanyaan "Kenapa Kamu Mau Kerja di Sini?"
Pertanyaan ini kelihatan sepele, tapi dulu saya sering jawab asal-asalan. "Karena saya butuh kerja," begitu kira-kira. Sekarang saya tahu, jawaban itu membunuh peluang. Pewawancara ingin tahu apakah kamu sudah mencari tahu tentang perusahaan itu, apakah visimu sejalan, apakah kamu benar-benar tertarik atau cuma asal melamar.
Kalau kamu punya cucu atau anak yang sedang cari kerja, mungkin bisa kamu ingatkan soal ini. Kadang hal kecil seperti ini yang menentukan.
Yang Saya Sesali: Terlalu Takut Bilang "Tidak"
Selama bekerja, saya sering mengiyakan apa saja. Lembur? Iya. Tugas tambahan? Iya. Proyek yang bukan bidang saya? Iya. Saya pikir itu cara jadi karyawan baik. Ternyata, itu cara jadi karyawan yang cepat burnout.
Sekarang saya sadar, bilang "tidak" dengan sopan itu keterampilan penting. Bukan berarti menolak kerja, tapi menolak hal yang membuat kita kehilangan fokus pada hal yang benar-benar penting. Sayangnya, saya baru belajar ini di usia kepala enam. Tapi nggak ada kata terlambat, kan?
Kalau kamu masih punya kesempatan bekerja atau sedang membimbing orang lain, coba ingatkan: batas yang sehat itu bukan kemalasan, tapi bentuk tanggung jawab pada diri sendiri.
Pensiun Bukan Berarti Berhenti Belajar
Ini yang paling saya syukuri. Ternyata, setelah pensiun, saya masih bisa belajar banyak hal—termasuk soal dunia kerja yang dulu saya jalani tanpa banyak refleksi. Sekarang saya jadi sering ngobrol dengan anak muda, mendengar cerita wawancara mereka, dan kadang memberi masukan sederhana. Rasanya seperti membalas budi pada pengalaman yang dulu saya dapat.
Kalau kamu pensiunan seperti saya, mungkin kamu juga punya cerita dan pelajaran yang sayang kalau cuma disimpan sendiri. Dunia kerja terus berubah, tapi hal-hal mendasar soal kejujuran, keberanian, dan batas diri itu nggak pernah basi. Dan itu, menurut saya, warisan paling berharga yang bisa kita bagikan.
Tiap pagi saya tetap bangun jam lima. Tapi sekarang, alih-alih buru-buru ke kantor, saya duduk sebentar dan bersyukur. Karena ternyata, pelajaran terbesar soal karier justru datang setelah karier itu sendiri berakhir.
===